Setiap kali hilal bulan Ramadhan mulai terlihat, ada satu kelompok masyarakat yang selain merasakan kegembiraan, juga diam-diam memendam kecemasan tersendiri yaitu para alumni pondok pesantren.
Bagi sebagian besar masyarakat awam, kepulangan seorang santri atau alumni pesantren ke kampung halaman sering kali disambut dengan ekspektasi yang teramat tinggi, bahkan cenderung tidak realistis. Tiba-tiba saja, mereka ditodong untuk menjadi imam shalat Tarawih, memimpin doa, hingga mengisi kultum dadakan sehabis sholat Tarawih.
Ketika sang alumni menolak dengan halus, tak jarang respons yang didapat justru berupa cibiran. "Masa anak pondok nggak mau ngisi? Pelit ilmu banget," atau "Percuma mondok bertahun-tahun kalau nggak berani tampil." Padahal, realitas dunia pendidikan pesantren tidaklah sesederhana itu. Mari kita bedah mengapa stigma bahwa anak pondok otomatis siap menjadi pendakwah mimbar adalah sebuah kesalahpahaman besar.
Jebakan Halo Effect di Mata Masyarakat
Masyarakat kita kerap terjebak pada apa yang disebut sebagai Halo Effect, sebuah bias kognitif di mana kesan positif pada satu hal membuat orang menyimpulkan segalanya secara pukul rata. Masyarakat mengira bahwa menghabiskan waktu 3 hingga 6 tahun di pondok berarti seseorang sudah khatam ilmu fiqih, hafal ribuan hadits shahih, memiliki suara semerdu qari internasional, dan mahir berorasi layaknya singa podium.
Faktanya, pesantren adalah institusi pendidikan yang memiliki sistem spesialisasi, persis seperti universitas pada umumnya.
Mari kita gunakan analogi perkuliahan. Bayangkan seorang mahasiswa program studi D4 Teknik Otomasi Kelistrikan yang saat ini sedang pusing-pusingnya berjuang merampungkan tugas akhir di semester 10. Apakah hanya karena ia kuliah di teknik kelistrikan, masyarakat boleh menuntutnya untuk bisa memperbaiki kulkas, AC, atau TV rusak milik tetangga secara dadakan? Tentu tidak. Fokus belajarnya adalah pada sistem kendali industri yang spesifik, bukan reparasi alat elektronik rumah tangga.
Ilmu pondok pun demikian. Ada pondok pesantren Tahfidz yang kurikulumnya murni didesain untuk mencetak para penjaga hafalan Al-Quran. Ada pondok Salaf yang fokus hariannya adalah membedah dan menganalisis literatur tata bahasa Arab serta hukum fiqih dari kitab kuning. Ada pula pesantren modern yang lebih menitikberatkan pada penguasaan bahasa asing. Jadi, keahlian setiap lulusan pasti berbeda-beda sesuai jurusan yang mereka ambil.
Jago Agama Tidak Sama Dengan Jago Public Speaking
Mungkin ada yang menyanggah, "Tapi kan di pondok ada kegiatan Muhadhoroh (latihan pidato)?"
Betul, kegiatan tersebut memang ada. Namun, kita harus memisahkan antara kapasitas pemahaman ilmu agama dengan kapasitas retorika (public speaking). Keduanya adalah dua skill yang sepenuhnya berbeda.
Ada banyak santri yang sifatnya sangat pendiam dan introvert, namun memiliki hafalan luar biasa dan pemahaman gramatikal kitab kuning yang sangat tajam di atas rata-rata. Memaksa seorang ahli hafalan atau pembedah kitab untuk tiba-tiba menjadi orator dadakan di depan ratusan jamaah sama kacaunya dengan menyuruh seorang dokter spesialis bedah syaraf untuk tiba-tiba maju mengambil alih tugas Public Relations (Humas) rumah sakit saat konferensi pers. Keduanya adalah profesi mulia, namun ranah dan keahlian komunikasinya jauh berbeda.
Menolak Mimbar Bukanlah Pelit Ilmu, Melainkan Bentuk Adab
Inilah poin krusial yang jarang dipahami masyarakat. Ketika seorang alumni pondok menolak naik mimbar untuk memberikan kultum, itu sama sekali bukan karena mereka pelit berbagi ilmu. Justru, itulah bentuk adab dan tanggung jawab moral tertinggi yang diajarkan di pesantren.
Menyampaikan ilmu agama bukanlah sekadar ajang unjuk keberanian berbicara. Ada tanggung jawab besar yang langsung berhadapan dengan Tuhan. Berbicara urusan agama tanpa persiapan yang matang, apalagi jika pikiran sang alumni kebetulan sedang bercabang mengurus hal lain di luar pendidikan agamanya sangat berisiko menyampaikan pemahaman yang keliru atau menyesatkan umat.
Seorang santri sejati tahu betul kapasitas dan batasan dirinya. Menolak berbicara hal yang belum dikuasainya atau belum disiapkannya dengan matang adalah bentuk menjaga amanah ilmu itu sendiri.
Waktunya Mengubah Sudut Pandang
Sudah saatnya kita mengedukasi masyarakat, keluarga, dan pengurus DKM masjid di lingkungan kita secara perlahan. Berhentilah memojokkan para alumni pondok pesantren dengan ekspektasi yang dipukul rata.
Biarkan mereka berkontribusi memakmurkan masjid sesuai dengan spesialisasi, kemampuan, dan kenyamanan mereka masing-masing. Ada yang memang berbakat di atas mimbar, silakan difasilitasi. Ada yang rapi dan teliti, berikan ruang di manajemen operasional dan kas masjid. Ada yang lembut dan sabar, biarkan mereka mengabdi di belakang layar mengajarkan iqra kepada anak-anak TPA.
Semuanya memiliki nilai kemuliaan yang sama di mata Allah SWT. Ramadhan adalah bulan untuk saling merangkul, bukan bulan untuk saling menuntut di luar batas kemampuan saudara kita sendiri.
