Ada satu ayat dalam Al-Qur’an yang selalu membuat saya berhenti sejenak setiap kali membacanya. Bukan karena ayat itu sulit dipahami, tetapi justru karena ia terasa terlalu jauh melampaui imajinasi manusia pada zamannya. Dalam Surah An-Naml ayat 40, dikisahkan bagaimana singgasana Ratu Balqis dapat dipindahkan ke hadapan Nabi Sulaiman hanya dalam sekejap mata oleh seseorang yang disebut sebagai “orang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab”. Sebagai seseorang yang menyukai sains, astronomi, dan teknologi, saya sering bertanya-tanya: bagaimana jika kisah ini dilihat dari sudut pandang fisika modern? Tentu saya tidak sedang mencoba mengubah mukjizat menjadi sains atau menjelaskan wahyu dengan rumus matematika. Namun terkadang menarik untuk membayangkan bagaimana ilmuwan abad ke-21 akan bereaksi jika mereka menyaksikan peristiwa tersebut secara langsung.
Dalam tafsir klasik, sosok yang membawa singgasana itu sering diidentifikasi sebagai Asif bin Barkhiya, seorang penasihat atau sekretaris Nabi Sulaiman yang memiliki pengetahuan khusus dari kitab Allah. Yang menarik bagi saya bukan hanya siapa orangnya, melainkan kemampuan yang dimilikinya. Sebelum Asif berbicara, seorang jin ifrit menawarkan untuk membawa singgasana tersebut sebelum majelis Nabi Sulaiman berakhir. Namun Asif menawarkan sesuatu yang jauh lebih cepat. Ia berkata bahwa singgasana itu dapat dipindahkan sebelum mata Nabi Sulaiman berkedip. Dalam bahasa teknologi modern, perbedaannya mirip antara mengirim paket menggunakan kapal laut dibandingkan mentransfer file melalui internet berkecepatan cahaya. Kedua-duanya memindahkan sesuatu dari satu tempat ke tempat lain, tetapi metodenya berada pada level yang benar-benar berbeda.
Ketika membaca kisah ini, pikiran saya sering melayang ke konsep quantum teleportation dalam fisika kuantum. Dalam dunia kuantum, terdapat fenomena yang disebut quantum entanglement, yaitu kondisi ketika dua partikel memiliki keterkaitan sedemikian rupa sehingga perubahan pada satu partikel berkorelasi dengan partikel lainnya meskipun dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh. Secara matematis, keadaan entanglement sering ditulis dalam bentuk sederhana seperti:

Persamaan tersebut menggambarkan dua partikel yang tidak lagi dapat dijelaskan secara terpisah. Meskipun teleportasi kuantum modern tidak benar-benar memindahkan benda fisik, konsep ini menunjukkan bahwa alam semesta memiliki mekanisme yang jauh lebih aneh daripada yang dibayangkan manusia selama ribuan tahun. Kadang saya bertanya-tanya, apakah peristiwa dalam kisah Nabi Sulaiman menggunakan prinsip yang bahkan lebih maju daripada seluruh pemahaman fisika manusia saat ini?
Jika saya boleh berimajinasi sebagai penulis fiksi ilmiah sekaligus penggemar astronomi, mungkin perangkat yang digunakan Asif bin Barkhiya bukanlah “alat” dalam pengertian modern, melainkan sebuah teknologi yang memanfaatkan struktur fundamental ruang-waktu itu sendiri. Sebut saja secara hipotetis sebagai Quantum Spatial Translation Engine (QSTE). Nama ini tentu sepenuhnya imajinatif dan tidak memiliki dasar historis. Namun konsepnya menarik: alih-alih memindahkan objek melalui ruang, perangkat tersebut melipat ruang itu sendiri sehingga titik A dan titik B menjadi berdekatan. Dalam fisika teoritis, ide serupa dikenal sebagai wormhole atau jembatan Einstein-Rosen. Jika teknologi seperti itu benar-benar ada, maka memindahkan singgasana tidak lagi memerlukan perjalanan, karena ruang di antara keduanya secara efektif dihapus.
Lalu seperti apa bentuk perangkat tersebut? Tidak ada yang tahu. Bahkan tidak ada petunjuk dalam Al-Qur’an mengenai keberadaan alat fisik apa pun. Namun jika kita bermain dalam wilayah spekulasi ilmiah, saya membayangkan sebuah perangkat berukuran tidak lebih besar dari koper modern, berbentuk prisma kristal dengan jaringan material eksotis yang mampu berinteraksi langsung dengan medan kuantum ruang-waktu. Beratnya mungkin hanya 20 hingga 50 kilogram, tetapi kemampuan komputasinya melampaui seluruh pusat data yang dimiliki manusia saat ini. Sekali lagi, ini bukan sejarah dan bukan tafsir. Ini hanya latihan imajinasi untuk memahami betapa luar biasanya peristiwa yang diceritakan Al-Qur’an.
Pertanyaan yang lebih menarik adalah soal energi. Dalam relativitas Einstein, hubungan massa dan energi dirumuskan dengan persamaan terkenal:

Jika sebuah singgasana seberat 1.000 kilogram benar-benar diubah menjadi energi lalu direkonstruksi kembali di lokasi lain, jumlah energi yang diperlukan akan sangat luar biasa, setara dengan energi yang dilepaskan oleh senjata nuklir dalam skala yang sangat besar. Karena itu, jika peristiwa tersebut dijelaskan melalui teknologi, maka teknologi itu harus bekerja dengan prinsip yang sama sekali berbeda dari teknologi manusia saat ini. Bukan memecah materi menjadi energi, tetapi mungkin memanipulasi geometri ruang-waktu atau memanfaatkan dimensi yang belum diketahui oleh sains modern.
Hal lain yang membuat saya penasaran adalah kemungkinan bahwa peradaban pada masa Nabi Sulaiman memiliki tingkat pengetahuan tertentu yang tidak kita pahami lagi hari ini. Banyak orang secara otomatis menganggap sejarah manusia bergerak secara linear: masa lalu primitif, masa kini modern, masa depan lebih maju. Namun kenyataannya sejarah sering kali tidak sesederhana itu. Kita kehilangan banyak teknologi kuno, manuskrip, dan pengetahuan yang lenyap bersama waktu. Apakah kerajaan Nabi Sulaiman memiliki teknologi yang setara dengan abad ke-21? Apakah bahkan lebih maju? Saya tidak tahu. Tidak ada bukti ilmiah yang dapat memastikan hal tersebut. Tetapi saya juga tidak merasa perlu menutup kemungkinan bahwa ada aspek-aspek peradaban masa lalu yang belum sepenuhnya kita pahami.
Yang sering saya renungkan justru bukan teknologinya, melainkan pesan filosofis di balik kisah tersebut. Dalam narasi Al-Qur’an, fokus utamanya bukanlah kehebatan alat atau kecanggihan sistem transportasi. Fokusnya adalah bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk menyombongkan diri. Setelah singgasana itu hadir di hadapannya, Nabi Sulaiman tidak berkata, “Lihat betapa hebat kerajaanku.” Beliau justru mengakui bahwa semua itu merupakan karunia dari Tuhan. Dalam dunia modern yang sering mengukur kemajuan berdasarkan jumlah transistor, kecerdasan buatan, atau kecepatan internet, pelajaran ini terasa sangat relevan.
Pada akhirnya, saya melihat kisah Asif bin Barkhiya dan singgasana Ratu Balqis sebagai sebuah jembatan yang indah antara iman, rasa ingin tahu, dan imajinasi ilmiah. Apakah benar ada teknologi teleportasi? Apakah ada perangkat yang mampu melipat ruang dan waktu? Apakah kerajaan Nabi Sulaiman memiliki pengetahuan yang bahkan belum bisa dicapai manusia modern? Tidak ada yang bisa menjawabnya dengan pasti. Namun justru di situlah keindahannya. Kadang-kadang, pertanyaan yang belum memiliki jawaban adalah bahan bakar terbaik bagi ilmu pengetahuan. Dan mungkin, ribuan tahun setelah kisah itu diturunkan, manusia masih terus berusaha memahami satu hal yang sama: betapa luasnya alam semesta yang diciptakan Tuhan, dan betapa sedikitnya yang sebenarnya sudah kita ketahui.



