Masalahnya bukan sekadar siapa yang berdiri di pinggir lapangan, melainkan siapa yang membangun tim, menentukan arah klub, dan bertanggung jawab ketika semuanya berantakan.
Ada satu hal yang semakin sulit aku abaikan sebagai fans Manchester United: rasanya kita terlalu sering mencari kambing hitam di tempat yang paling mudah dilihat, sementara akar masalahnya justru ada di tempat yang paling jarang tersentuh. Setiap kali MU kalah, bermain imbang dengan cara yang menyakitkan, atau kehilangan momentum pada momen penting, perdebatan yang muncul hampir selalu sama: pelatihnya tidak kompeten, taktiknya salah, pemainnya tidak punya mentalitas, atau ada pemain yang harus segera dijual. Aku tidak bilang semua kritik itu keliru. Pelatih bisa salah mengambil keputusan, pemain bisa tampil buruk, dan tanggung jawab di lapangan tetap nyata. Namun, setelah bertahun-tahun menyaksikan siklus yang serupa, aku mulai merasa bahwa kita sedang terus memperbaiki gejala tanpa pernah benar-benar menyembuhkan penyakitnya. Kita bisa mengganti pelatih, mengganti beberapa pemain, mengganti formasi, bahkan mengganti cara klub berbicara kepada publik. Tetapi kalau orang-orang yang menentukan arah sepak bola Manchester United tetap gagal membangun fondasi yang kuat, apa yang sebenarnya berubah? Nama pelatih di pintu ruang ganti mungkin berbeda, tetapi persoalan yang menunggunya bisa saja masih sama.
Kekalahan 0–2 dari Atlético Madrid menjadi gambaran terbaru dari frustrasi itu. United langsung tertinggal melalui gol Pablo Barrios pada awal pertandingan, lalu harus menghadapi situasi yang semakin sulit setelah Leny Yoro mendapat kartu merah sebelum Ademola Lookman memastikan kemenangan tuan rumah. Hasil ini menyakitkan, tetapi yang membuatku lebih gelisah justru komentar Lisandro Martínez setelah pertandingan. Ia secara terbuka mempertanyakan investasi klub dan meminta lebih banyak dari jajaran petinggi, termasuk direktur teknik Jason Wilcox. Martínez juga mengingatkan bahwa menyalahkan pelatih atau pemain saja tidak cukup karena ada persoalan lain di atas lapangan yang harus dievaluasi. Bagiku, ketika pemain yang berada langsung di dalam ruang ganti mulai menyuarakan frustrasi tentang arah klub, ini bukan sesuatu yang bisa begitu saja dianggap sebagai luapan emosi setelah kalah. Tentu kita perlu memahami bahwa komentar pemain tidak otomatis membuktikan seluruh manajemen bersalah. Namun, keluhan Martínez selaras dengan pertanyaan yang selama ini diajukan banyak fans: bagaimana mungkin klub sebesar Manchester United ingin kembali bersaing di level tertinggi, tetapi perencanaan skuadnya masih terasa tidak seimbang?
Aku juga lelah melihat pelatih Manchester United seolah-olah harus menjadi orang yang bertanggung jawab atas hampir semua kegagalan klub. Kita sudah melihat bagaimana pergantian pelatih dapat menciptakan harapan baru, tetapi harapan tersebut tidak akan bertahan lama kalau pelatih berikutnya mewarisi masalah yang sama. Setiap manajer punya pendekatan, sistem permainan, dan profil pemain yang berbeda. Ada yang ingin timnya agresif melakukan pressing, ada yang mengutamakan kontrol permainan, ada pula yang membutuhkan bek yang nyaman membawa bola, gelandang yang mampu memenangkan duel, dan penyerang yang bisa memaksimalkan peluang. Kalau klub merekrut pelatih karena menyukai namanya atau reputasinya, tetapi tidak benar-benar membangun skuad berdasarkan kebutuhan sistem yang akan dimainkan, konflik antara ide pelatih dan komposisi pemain hanya tinggal menunggu waktu. Ketika hasil mulai memburuk, pelatih menjadi sasaran kritik dan akhirnya bisa dipecat. Setelah itu, pelatih baru datang dengan ide berbeda dan siklusnya berulang lagi. Martínez sendiri mempertanyakan kebiasaan terus mengganti manajer tanpa membenahi area lain. Aku tidak sedang mengatakan Michael Carrick kebal kritik atau semua kekalahan bisa dibebankan kepada petinggi. Carrick tetap perlu menjelaskan keputusan taktisnya, dan para pemain harus bertanggung jawab atas performa mereka. Namun, mengevaluasi pelatih tanpa mengevaluasi sistem yang mendukung pekerjaannya adalah cara yang tidak lengkap untuk menyelesaikan masalah.
Di sinilah kritik terhadap Jason Wilcox, direktur teknik, tim rekrutmen, dan jajaran eksekutif lainnya menjadi relevan. Musim panas seharusnya menjadi kesempatan bagi United untuk membangun skuad yang lebih seimbang, terutama setelah tim melewati musim sebelumnya yang memberikan fondasi untuk berkembang. Tetapi laporan setelah kekalahan Atlético menyoroti bahwa perekrutan pemain senior lebih banyak berpusat pada lini tengah, dengan Carlos Baleba, Andrey Santos, dan Youri Tielemans sebagai tiga tambahan utama, ditambah Karl Darlow sebagai kiper pelapis. Menguatkan lini tengah tentu bukan keputusan yang otomatis salah; posisi itu memang sangat penting dalam sepak bola modern. Masalahnya adalah prioritas perekrutan tidak boleh berhenti pada posisi yang paling menarik atau pemain yang kebetulan tersedia. Jika klub masih kekurangan pelapis yang meyakinkan di sejumlah posisi pertahanan dan belum mempunyai keseimbangan ideal di lini depan, menambah pemain di satu area saja tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan. Rekrutmen yang bagus bukan soal mengumpulkan nama besar sebanyak mungkin, melainkan memahami kebutuhan tim utama, memproyeksikan risiko cedera, menilai potensi perkembangan pemain muda, dan memastikan bahwa setiap posisi punya kompetisi yang sehat. Kalau pelatih membutuhkan tipe pemain tertentu, manajemen perlu menjelaskan apakah profil itu sesuai dengan rencana jangka panjang klub atau menawarkan alternatif yang benar-benar masuk akal. Yang tidak boleh terjadi adalah pelatih dan manajemen berjalan dengan dua visi berbeda, kemudian pemain serta fans yang harus menanggung akibatnya.
Masalah berikutnya adalah squad depth, sesuatu yang kelihatannya baru benar-benar diperhatikan ketika pemain inti mulai cedera atau tim memasuki periode pertandingan yang padat. Manchester United bukan klub yang seharusnya hanya mempunyai sebelas pemain yang cukup bagus untuk memainkan sepak bola kompetitif. Jika ingin bersaing di Premier League, Liga Champions, FA Cup, dan Carabao Cup, klub membutuhkan kedalaman skuad yang memungkinkan pelatih melakukan rotasi tanpa membuat kualitas permainan jatuh terlalu jauh. Bek kiri utama tidak seharusnya menjadi satu-satunya pilihan yang benar-benar dipercaya sepanjang musim; begitu pula bek tengah, bek kanan, gelandang bertahan, pemain kreatif, dan penyerang. Pemain akademi penting dan harus diberi kesempatan, tetapi mereka tidak semestinya terus-menerus dipaksa menjadi solusi darurat untuk lubang yang seharusnya sudah diantisipasi ketika bursa transfer masih terbuka. Cedera adalah bagian dari sepak bola. Yang membedakan klub dengan perencanaan matang dan klub yang reaktif adalah bagaimana mereka mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan itu. Kalau satu atau dua pemain absen lalu seluruh sistem permainan berubah, mungkin persoalannya bukan semata-mata kualitas pemain yang cedera, melainkan ketergantungan berlebihan kepada mereka. Skuad yang dalam bukan kemewahan untuk klub sebesar United; itu kebutuhan dasar untuk bertahan di empat kompetisi sekaligus. Kita tidak bisa berharap tim terus tampil konsisten sepanjang musim jika setiap absensi pemain inti membuat pelatih harus menyusun ulang hampir seluruh rencananya.
Lalu ada persoalan finansial dan kepemilikan yang juga tidak bisa dilepaskan dari pembicaraan ini. Keluarga Glazer masih menguasai sekitar 67,91% hak suara Manchester United, sedangkan kepemilikan INEOS berada di sekitar 28,95%, menurut laporan tahunan klub. Pada 30 Juni 2026, United mencatat total pinjaman sebesar £689 juta. Angka tersebut bukan berarti klub tidak mempunyai pemasukan atau sama sekali tidak punya uang untuk merekrut pemain. Bahkan, laporan keuangan tahun fiskal 2026 mencatat pendapatan tahunan sebesar £677,6 juta dan laba operasional £22,6 juta. Jadi, persoalannya lebih rumit daripada sekadar mengatakan, “MU sudah tidak punya duit.” Klub masih menghasilkan pemasukan dalam jumlah besar, tetapi utang, pembayaran bunga, kebutuhan operasional, investasi fasilitas, dan keputusan penggunaan modal ikut menentukan berapa banyak ruang yang tersedia untuk membangun tim. Manchester United juga melaporkan pembayaran bunga sebesar £38,9 juta selama tahun fiskal tersebut. Bagi fans, inilah sumber frustrasi yang sulit dijelaskan kepada orang yang hanya melihat besarnya pendapatan klub: bagaimana sebuah institusi sepak bola dengan kekuatan komersial sebesar United masih terlihat kesulitan memenuhi kebutuhan skuad secara menyeluruh? Kritik terhadap kepemilikan bukan berarti setiap kegagalan transfer otomatis merupakan kesalahan Glazer secara langsung. Namun, selama keluarga Glazer tetap memiliki kendali suara yang dominan, mereka tidak bisa sepenuhnya dijauhkan dari pertanyaan tentang arah, prioritas, dan konsekuensi kepemilikan mereka. INEOS pun, sebagai pemegang saham dengan peran besar dalam urusan sepak bola, harus dinilai dari keputusan yang benar-benar dibuat, bukan hanya dari janji perubahan.
Hal lain yang membuatku semakin tidak nyaman adalah soal bocornya informasi taktik Manchester United sebelum pertandingan melawan Atlético Madrid. Ini bukan sekadar rumor tanpa jejak. Beberapa jam sebelum kick-off pada 13 Oktober 2026, akun X Djamel (@Djaameel_) mengunggah informasi eksklusif bahwa Youri Tielemans akan dimainkan sebagai nomor 10, sementara Bruno Fernandes digeser ke sisi kanan. Kabar ini kemudian diberitakan oleh sejumlah media yang mengikuti perkembangan United, dan susunan pemain resmi memang mengonfirmasi bahwa keduanya menjadi starter. Perubahan peran tersebut juga disorot dalam laporan pertandingan. Buatku, persoalannya bukan semata-mata apakah keputusan Michael Carrick menempatkan Bruno di kanan dan Tielemans sebagai gelandang serang akan berhasil atau tidak. Pelatih tentu berhak bereksperimen, apalagi ketika beberapa pemain penting absen. Yang membuatku bertanya-tanya adalah bagaimana informasi spesifik seperti ini bisa beredar begitu jauh sebelum pertandingan dimulai. Kita memang belum tahu apakah sumbernya berasal dari orang dalam klub, pengamatan terhadap sesi latihan, atau jaringan informasi media, jadi aku tidak mau asal menuduh siapa pun. Namun, kalau kebocoran internal memang terjadi, manajemen harus serius mengevaluasi bagaimana informasi tim dijaga. Di saat yang sama, keputusan taktisnya juga layak dikritisi. Bruno merupakan salah satu sumber kreativitas utama United, sehingga memindahkannya ke kanan berarti ada pertanyaan tentang bagaimana tim akan memanfaatkan visi, umpan progresif, dan kemampuannya menciptakan peluang dari area sentral. Tielemans punya kualitas distribusi bola dan dapat beroperasi lebih maju, tetapi memainkan dirinya sebagai nomor 10 juga menuntut keseimbangan yang baik di belakangnya. Aku tidak menganggap eksperimen ini otomatis salah; yang ingin aku lihat adalah apakah perubahan tersebut merupakan bagian dari rencana yang matang atau solusi sementara akibat keterbatasan pilihan pemain. Di sinilah masalah manajemen dan kedalaman skuad kembali relevan. Ketika komposisi tim harus terus disesuaikan karena absensi dan keterbatasan alternatif, setiap keputusan taktis menjadi semakin penting. Manchester United seharusnya bukan hanya mampu menyiapkan sebelas pemain untuk bertanding, tetapi juga memiliki struktur profesional yang menjaga informasi, perencanaan pertandingan, dan kualitas skuad tetap berada pada standar klub elite. Kita sudah terlalu sering membicarakan kekacauan setelah pertandingan berakhir. Pertanyaannya, mengapa begitu banyak hal yang seharusnya bisa dikelola secara profesional masih terus menjadi sumber keresahan para fans?
Aku tidak ingin semua ini terdengar seperti upaya membebaskan pemain dari tanggung jawab. Lisandro Martínez sendiri harus tampil lebih baik saat bertahan, Bruno harus membantu tim dengan performa yang konsisten, dan setiap pemain yang mengenakan seragam United wajib memahami bahwa standar klub ini seharusnya jauh lebih tinggi daripada sekadar mencoba tidak kalah. Carrick juga harus menunjukkan bahwa dia bisa menemukan solusi, mengelola ruang ganti, dan membuat perubahan ketika pendekatan awalnya tidak bekerja. Kritik manajemen dan kritik terhadap performa pemain bukan dua pilihan yang harus saling meniadakan. Kita bisa kecewa dengan kesalahan individu sekaligus mempertanyakan mengapa skuad tidak mempunyai alternatif yang memadai. Kita bisa mendukung pelatih sambil tetap menilai keputusan taktisnya. Kita bisa menuntut investasi lebih baik sambil mengakui bahwa uang besar saja tidak menjamin kesuksesan apabila proses perekrutannya buruk. Justru karena Manchester United adalah klub besar, standar evaluasi seharusnya berlaku bagi semua orang: pemain, pelatih, direktur teknik, tim rekrutmen, CEO, dan pemilik. Aku tidak membutuhkan manajemen yang selalu menjanjikan revolusi setiap musim panas. Aku membutuhkan manajemen yang mampu menyampaikan visi yang masuk akal, merekrut berdasarkan kebutuhan sepak bola, membangun struktur yang stabil, dan bersedia menerima konsekuensi ketika keputusan mereka terbukti gagal. Akuntabilitas tidak seharusnya berhenti pada orang yang paling mudah dipecat.
Pada akhirnya, aku masih mencintai Manchester United, dan mungkin itulah alasan mengapa semua ini terasa begitu melelahkan. Menjadi fans bukan berarti harus selalu membela setiap keputusan klub atau berpura-pura semuanya baik-baik saja. Kadang-kadang, bentuk kepedulian yang paling jujur adalah berani mengatakan bahwa sesuatu memang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Aku rindu melihat United sebagai klub yang tahu ingin bermain seperti apa, merekrut pemain dengan tujuan yang jelas, dan memberi pelatih alat yang cukup untuk menerapkan idenya. Aku rindu melihat skuad yang tidak langsung kehilangan identitas begitu satu pemain inti absen. Aku rindu masa ketika membicarakan Manchester United lebih banyak tentang sepak bola yang dimainkan daripada perdebatan tentang siapa yang harus disalahkan setelah kekalahan. Kita tidak membutuhkan satu lagi pergantian pelatih yang hanya membawa harapan selama beberapa bulan, lalu berakhir dalam lingkaran keluhan yang sama. Kita membutuhkan pembenahan yang nyata, mulai dari strategi perekrutan, perencanaan kedalaman skuad, penggunaan sumber daya finansial, sampai tanggung jawab para petinggi yang menentukan masa depan klub. Glazer tidak bisa terus berada di atas kritik hanya karena mereka pemilik; INEOS dan para direktur tidak bisa berlindung di balik kata “proses” tanpa menunjukkan hasil; dan pelatih serta pemain tidak bisa menghindari evaluasi atas apa yang terjadi di lapangan. Manchester United tidak akan kembali menjadi kekuatan yang disegani hanya dengan mengganti satu orang di pinggir lapangan. Klub ini harus membangun sistem yang membuat siapa pun yang datang mempunyai kesempatan nyata untuk berhasil. Sebab, pada akhirnya, masalah terbesar United bukan sekadar siapa yang memimpin tim pada hari pertandingan, melainkan apakah orang-orang yang memimpin klub benar-benar sedang membangun masa depan yang layak bagi Manchester United.

