April kemarin, saat toga akhirnya kutanggalkan setelah sembilan semester yang terasa seperti satu abad, aku mengira dunia akan menyambutku dengan tangan terbuka. Namun, di usia dua puluh lima tahun ini, yang kudapati justru sebuah ruang hampa yang begitu sunyi. Ijazah sudah di tangan, ratusan lamaran pekerjaan telah kusebar layaknya menebar jala di lautan lepas, tetapi balasan yang datang hanyalah keheningan. Menghadapi realita rekrutmen di tengah kondisi ekonomi yang tak menentu—di mana nilai tukar mata uang bergejolak dan kebijakan sering kali membuat rakyat kecil menahan napas—membuatku sadar bahwa melangkah di dunia nyata bagaikan berjalan di atas kaca yang retak. Aku kehabisan napas, terhimpit di antara kerasnya realita bertahan hidup di negeri ini dan bisingnya tuntutan tak kasat mata untuk segera "menjadi seseorang".
Kehampaan ini perlahan menebal menjadi kabut tebal ketika aku menengok ke kanan dan kiri, melihat teman-teman sebayaku yang sudah melesat jauh di lintasan mereka masing-masing. Timeline media sosialku dipenuhi dengan senyum bahagia mereka yang telah menemukan pijakan karier, membagikan undangan pernikahan, hingga menggendong buah hati. Ada desir FOMO yang diam-diam menyayat rasa percayaku; sebuah perasaan tertinggal yang tak tertahankan. Rasa tertinggal ini lalu bertransformasi menjadi rasa malu yang menggunung, terutama saat aku menatap perempuan yang kucintai. Di usianya yang baru dua puluh tiga, ia sudah berdiri tegar mengajar di depan kelas dan tangkas menyetir mobilnya sendiri. Sementara aku? Aku masih tertatih mencari arah, belum memiliki pekerjaan, apalagi keahlian menyetir yang kerap dijadikan standar kemapanan. Berdiri di sebelahnya, terkadang aku merasa sangat kerdil dan tak pantas.
Namun, jika aku berani menguliti perasaan ini lebih dalam, kekosongan di usia seperempat abad ini bukanlah semata-mata karena belum adanya panggilan dari HRD. Ada sebuah luka lama yang belum mengering; tangisan pelan dari seorang inner child yang selama ini kupaksa bungkam. Aku tersadar bahwa selama dua puluh lima tahun bernapas, kemudi kehidupanku nyaris tidak pernah benar-benar ada di genggamanku. Aku bagaikan aktor yang menjalankan naskah yang ditulis oleh ekspektasi keluarga. Sejak masa remajaku, aku mengikuti kehendak orang tua untuk masuk pondok di Bogor, mendedikasikan satu setengah tahun hidupku untuk menyelesaikan hafalan tiga puluh juz. Sebuah perjalanan spiritual yang indah, memang, namun efek gap year itu membuatku merasa langkahku sejak awal sudah tertunda dari garis start yang normal bersama teman-temanku.
Kendali atas hidupku itu semakin terasa terenggut saat tiba waktunya menentukan arah masa depan. Aku didorong dengan paksaan yang disamarkan begitu halus oleh ibu dan kakakku untuk melangkah masuk ke jurusan teknik elektro otomasi, sebuah bidang yang sama sekali tidak pernah memanggil jiwaku. Bayangkan rasanya harus menelan kurikulum selama bertahun-tahun di tempat yang tidak kauinginkan. Aku hadir di kelas, aku mengerjakan tugas, aku bertahan hingga garis akhir penyelesaian skripsi, tapi jiwaku tertinggal di tempat lain. Setiap keputusan krusial dalam hidupku seolah selalu memiliki campur tangan mereka. Kebebasan memilih, bagiku, adalah sebuah kemewahan yang tak pernah kudapatkan.
Kini, setelah aku berhasil memenuhi semua ekspektasi akademik mereka, aku ditinggalkan sendirian di tengah medan pertempuran dunia kerja yang serba paradoks. Persyaratan rekrutmen yang kadang tak masuk akal di tengah kesenjangan yang semakin menganga membuatku merasa seperti prajurit tanpa pedang. Ironisnya, di tengah keputusasaan mencari pijakan di sistem yang sulit ini, tekanan paling berat justru datang dari balik dinding rumahku sendiri. Tuntutan tak bersuara dari ibu dan kakakku untuk segera bekerja, segera menghasilkan, dan segera sukses, terasa seperti rantai yang melilit leherku. Aku butuh ruang untuk sekadar mengambil napas, untuk memahami siapa diriku yang sebenarnya, tapi yang kudapatkan hanyalah desakan untuk terus berlari mengejar ketertinggalan.
Di keheningan malam ini, aku mencoba memejamkan mata dan merangkul anak kecil dalam diriku yang selama ini kelelahan. Anak laki-laki yang selalu berusaha menjadi versi sempurna di mata ibu dan kakaknya, yang rela mengorbankan impiannya sendiri demi seulas senyum persetujuan dari mereka. Aku mulai menyadari bahwa menyembuhkan inner child yang terluka karena hilangnya otonomi diri ini tidak akan bisa dilakukan dalam semalam. Tidak apa-apa jika saat ini aku merasa hancur. Tidak apa-apa jika aku harus merangkak sementara yang lain sudah bisa terbang dan berlari. Aku berhak untuk merasa sedih atas hak pilihku yang pernah direnggut, dan aku berhak untuk merasa lelah atas semua dikte ini.
Usia dua puluh lima ini mungkin akan tercatat sebagai fase paling berantakan dalam hidupku, tapi mungkin juga ini adalah titik balikku yang paling nyata. Ini adalah garis mula di mana aku akhirnya memberanikan diri merebut kembali kemudi hidupku. Biarlah dunia luar riuh dengan standar kesuksesan yang menekan, dan biarlah mereka yang lebih dulu mapan menikmati panggungnya. Aku akan menyembuhkan luka masa lalu ini perlahan-lahan. Aku akan membangun kembali puing-puing kepercayaan diriku, bukan demi memenuhi ekspektasi kakak atau ibuku, bukan pula semata-mata agar pantas bersanding dengan perempuanku, melainkan demi diriku sendiri. Karena pada akhirnya, naskah hidup ini adalah milikku, dan hanya aku yang berhak menentukan bagaimana bab selanjutnya akan diakhiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar