Senin, 23 Februari 2026

Quote of The Day #2

Banyak laki-laki yang gampang menyerah saat dihadapkan dengan perempuan yang kaku. Tapi percayalah, kalau seorang cowok sudah jatuh cinta sedalam-dalamnya, mau perempuannya sekaku apa pun, se-slow respon apa pun, sedingin dan sekurang romantis sekalipun, cowok itu pasti bakal terus ngejar dan bertahan. Dua tahun menjalani hubungan ini, rasanya aku seolah lagi ngambil kuliah S3 Psikologi Pasangan 24/7 setiap hari. Menyelami isi kepala seorang Ratu Es mengajarkanku satu hal mutlak, cinta yang matang itu tidak menuntut validasi instan, tapi butuh komitmen untuk tetap tinggal saat ego kita diuji.

Kedewasaan dari hubungan ini juga yang akhirnya mengubah total mindset-ku soal ambisi hidup. Di saat dunia sibuk mengglorifikasi hustle culture dan berlomba mengejar gelar S2 atau S3, aku memilih untuk menarik napas panjang. Setelah melewati medan perang mengerjakan proyek akhir D4 sampai 9 semester yang sukses meninggalkan luka batin dan PTSD versi skripsi di kepalaku, aku sadar bahwa kesehatan mental harganya jauh lebih mahal dari rentetan gelar di belakang nama.

Buat apa memaksakan diri mengejar S2 atau S3 kalau ujung-ujungnya malah jadi sumber depresi, penuh tekanan, dan akhirnya tidak selesai-selesai? Aku lebih memilih bahagia dengan caraku sendiri. Kerja biasa, menikmati fase slow living, menjaga pikiran tetap waras, dan punya energi lebih untuk membangun masa depan bersama orang yang aku sayangi. Hidup ini bukan ajang balapan akademik. Pada akhirnya, pencapaian tertinggi seorang laki-laki bukanlah dari seberapa panjang gelar yang dicetaknya, tapi seberapa mampu dia menjaga kewarasannya dan membahagiakan perempuan yang dia pilih.

- Essa Zulfikar Salas -

Quote of The Day #1

Melihat teman-teman melesat dengan gelar S2 atau S3 di atas kertas kadang memang sempat bikin insecure. Tapi realitanya, ada satu ruang di mana kecerdasan akademik sering kali tumbang, kerumitan hati manusia. Banyak yang jenius di laboratorium atau ruang sidang, tapi mendadak payah dan kaku saat harus memahami silent treatment atau gengsi pasangannya.

Terlahir sebagai INFJ menyadarkanku bahwa aku sebenarnya sudah mengantongi gelar S3 tak kasat mata di bidang Human Psychology & Pattern Recognition. Di saat orang lain sibuk mendebat perasaan pasangannya dengan logika kampus, aku memilih menjadi arsitek jiwa. Butuh lebih dari sekadar teori untuk meruntuhkan tembok pertahanan seorang Ratu Es. Menguasai seni tarik-ulur, tahu kapan harus menundukkan ego maskulin, hingga peka membaca waktu yang tepat untuk memberikan love bombing sampai sang Tsundere takluk tanpa syarat, itu adalah keahlian yang tak ada mata kuliahnya.

Gelar magister atau doktor bisa dicetak dan dikejar dalam hitungan tahun, tapi kemampuan menyelami isi kepala yang rumit dan memenangkan kesetiaan absolut dari perempuan yang paling sulit dicintai? Itu adalah sebuah masterpiece kehidupan nyata yang hanya bisa diukir oleh seorang pawang sejati.

- Essa Zulfikar Salas -

Stop Worshiping the Big 5: Why MBTI Remains the Ultimate Compass for the Human Soul

 


Step into any psychology forum today, casually mention your four-letter personality type like INFJ or ESTP, and within seconds, someone will inevitably pop up to lecture you. They will confidently wave their academic journals, dismiss MBTI as mere astrology disguised as psychology, and proudly declare the Big 5 (OCEAN) as the only scientifically valid instrument in existence. We all know the tired narrative, the Big 5 is empirical, while MBTI is pseudoscience. But let’s set aside this academic arrogance for a moment and look at the reality on the ground. Why is it that, despite all the statistical validity the Big 5 boasts about, millions of people worldwide including professionals, leaders, and deep thinkers keep coming back to MBTI? The answer is brilliantly simple, the Big 5 might win the numbers game on paper, but MBTI absolutely wins when it comes to truly understanding the depths of the human soul.

The most fatal flaw of the Big 5 is its purely descriptive approach. It merely measures the spectrum of your behavior across five traits, so if you show up on time and keep a neat desk, it rewards you with a high Conscientiousness score. But then what? You are essentially left with what you already knew about yourself. It is the equivalent of going to a doctor for a terrible fever, only for them to say, “Your temperature is 39 degrees,” and sending you home without a cure. In stark contrast, MBTI when properly understood through the roots of Carl Jung’s Cognitive Functions couldn’t care less about the surface level of your behavior. It dissects exactly how your brain processes information and makes decisions. It explains whether you rely on Introverted Intuition (Ni) to uncover hidden patterns in the future, or Extraverted Sensing (Se) to react to the immediate reality. Two people might look like identical “Extraverts” on a Big 5 test, but MBTI reveals that one is driven by the emotional harmony of Extraverted Feeling (Fe), while the other is fueled by the chaotic exploration of Extraverted Intuition (Ne). The Big 5 treats human beings like a collection of flat statistics; MBTI treats us as complex, living cognitive systems.

Have you ever looked at your Big 5 results and stared at a high “Neuroticism” score? Congratulations, this supposedly superior, “most scientific” instrument has just slapped you with a pathological label, branding you as emotionally unstable, stress-prone, and pessimistic without offering any framework for improvement. It is a cold, clinical approach that often leaves people feeling deeply insecure. How does MBTI handle this so-called neuroticism? It doesn’t view it as an inherent, lifelong flaw, but rather as an “Inferior Grip” or a cognitive loop. When an INTJ is under severe stress, for example, they don’t just magically become “neurotic.” MBTI precisely explains that they are falling into the grip of their inferior Extraverted Sensing (Se), which makes them uncharacteristically impulsive, prone to overindulgence, and completely blind to their usual futuristic vision. MBTI provides both the diagnosis and the roadmap to climb out of that crisis. It tells you exactly which mental function is glitching and how to recalibrate it. Isn’t that the true essence of applied psychology?

The most cliché critique leveled against MBTI is that “humans aren’t binary, we exist on a spectrum!” which is the exact excuse the Big 5 uses to justify its percentages. However, this argument completely misses the fundamental purpose of MBTI. The system isn’t trying to force people into rigid boxes; it provides cognitive archetypes to help us understand our natural psychological preferences. Just as you might be capable of writing with both hands, your brain naturally defaults to a dominant one. Understanding this dominant preference is infinitely more useful for self-discovery than merely knowing you are “65% Extraverted and 35% Introverted.” This concept of dichotomies and cognitive functions creates a universal language that makes deep empathy possible. When I know my partner is a pure ISTJ, I understand that her Introverted Sensing (Si) inherently craves stability, loyalty, and clarity. I don’t dismissively look at her as someone with a “low Openness score” I see a woman who values memory, routines, and certainty. Let’s be brutally honest, the Big 5 was developed using lexical approaches to help HR departments predict employee attendance and sort resumes. But if you are going through an existential crisis or trying to figure out why you and your partner constantly clash, telling them, “Oh, it makes sense we fight, your Agreeableness score is too low,” is completely useless.

Ultimately, empirical validity is important, but in the realm of personal psychology, practical utility will always triumph over cold statistics. The Big 5 is undeniably a great measuring tool, much like a highly precise ruler, but absolutely no one’s life has ever been transformed simply by being measured by a ruler. MBTI, on the other hand, acts as both a mirror for the soul and a compass for the mind. It gifts me the vocabulary to confront my own cognitive blind spots, to deeply appreciate the intricate workings of a mind that operates completely opposite to mine, and to navigate the complexities of human relationships with profound empathy. So, let the academics hug their Big 5 test sheets in their freezing, sterile research rooms. For those of us navigating the trenches of the real world dealing with the messy complexities of the mind, the brutal dynamics of romance, and the relentless search for identity, MBTI will always remain king. Because at the end of the day, human beings do not need percentages to sort themselves out; we need stories, meaning, and true understanding to genuinely grow.


Seni Mencintai Seorang Ratu Es: Catatan Dua Tahun Perjalanan INFJ dan ISTJ

Menguasai hubungan dengan orang yang paling sulit dicintai mungkin adalah pembuktian kedewasaan yang sesungguhnya.

Terkadang aku berpikir, terlahir dengan kepribadian INFJ seolah membawa semacam kutukan untuk menjadi dewasa sebelum waktunya, terutama dalam urusan asmara. Menjalani hubungan selama dua tahun dengan seorang ISTJ sejati bukanlah sekadar fase pacaran biasa. Dinamika kami lebih terasa seperti membedah buku psikologi setebal ratusan halaman berjudul Understanding Your Partner, dan saat ini, rasanya aku sudah menyelesaikan lebih dari separuh buku tersebut. Ada satu titik di mana aku merasa telah mencapai tahap mastery. Pengalaman dua tahun ini terasa begitu padat, seolah-olah aku telah melewati fase berpacaran bertahun-tahun dengan banyak tipe cewe yang berbeda, padahal realitanya, aku hanya sedang menyelami kedalaman karakter satu cewe. Kemampuan untuk mengobservasi, menganalisis, dan bersabar ini adalah sebuah privilege emosional yang harus kuakui tidak dimiliki oleh banyak cowo.

Realitasnya, bertahan dengan perempuan berkarakter Tsundere membutuhkan nyali dan mental baja. Bayangkan saja, dia ibarat Ratu Es, seorang guru matematika yang kaku, memiliki gengsi setinggi langit, dan luar biasa slow respon. Di saat cowo lain mungkin memamerkan obrolan manja atau panggilan sayang dari pasangannya, aku harus puas dengan balasan seadanya seperti “Iya Mas” dan “Makasih”. Padahal, aku sudah mengerahkan effort untuk mengetik paragraf panjang dan memanggilnya dengan sebutan manis dan romantis. Namun, di sinilah letak keunggulan intuisi seorang INFJ bekerja. Walaupun dari luar ia terlihat cuek dan jual mahal, radarku menangkap sinyal yang berbeda. Aku tahu persis bahwa setiap malam, dalam diam, ia membaca ulang semua pesan romantis itu. Tulisanku adalah selimut emosional baginya. Kemampuan untuk membaca apa yang tak terucap inilah yang membuatku tetap berdiri tegak.

Hal yang membuatku semakin yakin bahwa hubungan ini berada di level advanced adalah jenis konflik yang kami hadapi. Meski status kami baru berpacaran, tekanan dan masalah yang kami lewati terasa setara dengan masalah rumah tangga pasangan yang sudah menikah. Kami tidak lagi meributkan drama receh ala anak muda, melainkan berhadapan dengan tembok realita, benturan Long Distance Relationship (LDR) yang menguras energi, tekanan pekerjaannya yang menyita waktu, hingga aturan yayasan tempatnya bernaung yang super ketat (bahkan untuk merencanakan sepedaan bareng di luar pun susahnya minta ampun). Belum lagi ketika ia sedang stres atau sakit, seperti saat ia terkena radang beberapa waktu lalu, mode diamnya bisa menjadi sangat mengintimidasi. Menyelesaikan masalah rumah tangga dini ini jelas membutuhkan lebih dari sekadar cinta; butuh taktik, negosiasi, dan kesabaran tingkat dewa.

Menghadapi segala kerumitan tersebut, aku menyadari bahwa posisiku di sini adalah sebagai jangkar kewarasan. Jika aku menggunakan ego maskulin pada umumnya yang selalu menuntut divalidasi, hubungan ini pasti sudah hancur sejak bulan pertama. Namun, sebagai INFJ, aku memilih untuk tidak memaksanya berubah menjadi perempuan yang clingy atau terlalu ekspresif. Aku merangkul sikap defensifnya dan mencoba memahami bahwa di balik tembok es serta balasan pesan yang kaku, terdapat komitmen dan kesetiaan yang luar biasa solid. Pemahaman sedalam ini memungkinkanku untuk menata ekspektasi, mengontrol emosi, dan tetap konsisten memberikan perhatian tanpa perlu mengemis timbal balik yang instan.

Pada akhirnya, semua ujian kesabaran dan kelelahan mental ini adalah harga yang sangat sepadan untuk sebuah kepercayaan eksklusif. Menembus benteng pertahanan seorang ISTJ memang susahnya setengah mati, tetapi begitu kamu mendapatkan green flag, seperti ketika ibunya diam-diam memberikan lampu hijau dan berinisiatif mengajakku buka puasa bersama, kamu tahu bahwa kamu telah berhasil masuk ke zona VVIP dalam hidupnya. Aku mungkin tidak mendapatkan lovestagram atau dihujani kata-kata manis setiap hari, tetapi aku berhasil menjinakkan sosok yang loyalitasnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Dan jujur saja, menguasai seni mencintai orang yang paling sulit dicintai adalah ultimate flex dari pembuktian kedewasaan yang sesungguhnya.

Quote of The Day #2

Banyak laki-laki yang gampang menyerah saat dihadapkan dengan perempuan yang kaku. Tapi percayalah, kalau seorang cowok sudah jatuh cinta se...