Banyak laki-laki yang gampang menyerah saat dihadapkan dengan perempuan yang kaku. Tapi percayalah, kalau seorang cowok sudah jatuh cinta sedalam-dalamnya, mau perempuannya sekaku apa pun, se-slow respon apa pun, sedingin dan sekurang romantis sekalipun, cowok itu pasti bakal terus ngejar dan bertahan. Dua tahun menjalani hubungan ini, rasanya aku seolah lagi ngambil kuliah S3 Psikologi Pasangan 24/7 setiap hari. Menyelami isi kepala seorang Ratu Es mengajarkanku satu hal mutlak, cinta yang matang itu tidak menuntut validasi instan, tapi butuh komitmen untuk tetap tinggal saat ego kita diuji.
Kedewasaan dari hubungan ini juga yang akhirnya mengubah total mindset-ku soal ambisi hidup. Di saat dunia sibuk mengglorifikasi hustle culture dan berlomba mengejar gelar S2 atau S3, aku memilih untuk menarik napas panjang. Setelah melewati medan perang mengerjakan proyek akhir D4 sampai 9 semester yang sukses meninggalkan luka batin dan PTSD versi skripsi di kepalaku, aku sadar bahwa kesehatan mental harganya jauh lebih mahal dari rentetan gelar di belakang nama.
Buat apa memaksakan diri mengejar S2 atau S3 kalau ujung-ujungnya malah jadi sumber depresi, penuh tekanan, dan akhirnya tidak selesai-selesai? Aku lebih memilih bahagia dengan caraku sendiri. Kerja biasa, menikmati fase slow living, menjaga pikiran tetap waras, dan punya energi lebih untuk membangun masa depan bersama orang yang aku sayangi. Hidup ini bukan ajang balapan akademik. Pada akhirnya, pencapaian tertinggi seorang laki-laki bukanlah dari seberapa panjang gelar yang dicetaknya, tapi seberapa mampu dia menjaga kewarasannya dan membahagiakan perempuan yang dia pilih.
- Essa Zulfikar Salas -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar