Menguasai hubungan dengan orang yang paling sulit dicintai mungkin adalah pembuktian kedewasaan yang sesungguhnya.
Terkadang aku berpikir, terlahir dengan kepribadian INFJ seolah membawa semacam kutukan untuk menjadi dewasa sebelum waktunya, terutama dalam urusan asmara. Menjalani hubungan selama dua tahun dengan seorang ISTJ sejati bukanlah sekadar fase pacaran biasa. Dinamika kami lebih terasa seperti membedah buku psikologi setebal ratusan halaman berjudul Understanding Your Partner, dan saat ini, rasanya aku sudah menyelesaikan lebih dari separuh buku tersebut. Ada satu titik di mana aku merasa telah mencapai tahap mastery. Pengalaman dua tahun ini terasa begitu padat, seolah-olah aku telah melewati fase berpacaran bertahun-tahun dengan banyak tipe cewe yang berbeda, padahal realitanya, aku hanya sedang menyelami kedalaman karakter satu cewe. Kemampuan untuk mengobservasi, menganalisis, dan bersabar ini adalah sebuah privilege emosional yang harus kuakui tidak dimiliki oleh banyak cowo.
Realitasnya, bertahan dengan perempuan berkarakter Tsundere membutuhkan nyali dan mental baja. Bayangkan saja, dia ibarat Ratu Es, seorang guru matematika yang kaku, memiliki gengsi setinggi langit, dan luar biasa slow respon. Di saat cowo lain mungkin memamerkan obrolan manja atau panggilan sayang dari pasangannya, aku harus puas dengan balasan seadanya seperti “Iya Mas” dan “Makasih”. Padahal, aku sudah mengerahkan effort untuk mengetik paragraf panjang dan memanggilnya dengan sebutan manis dan romantis. Namun, di sinilah letak keunggulan intuisi seorang INFJ bekerja. Walaupun dari luar ia terlihat cuek dan jual mahal, radarku menangkap sinyal yang berbeda. Aku tahu persis bahwa setiap malam, dalam diam, ia membaca ulang semua pesan romantis itu. Tulisanku adalah selimut emosional baginya. Kemampuan untuk membaca apa yang tak terucap inilah yang membuatku tetap berdiri tegak.
Hal yang membuatku semakin yakin bahwa hubungan ini berada di level advanced adalah jenis konflik yang kami hadapi. Meski status kami baru berpacaran, tekanan dan masalah yang kami lewati terasa setara dengan masalah rumah tangga pasangan yang sudah menikah. Kami tidak lagi meributkan drama receh ala anak muda, melainkan berhadapan dengan tembok realita, benturan Long Distance Relationship (LDR) yang menguras energi, tekanan pekerjaannya yang menyita waktu, hingga aturan yayasan tempatnya bernaung yang super ketat (bahkan untuk merencanakan sepedaan bareng di luar pun susahnya minta ampun). Belum lagi ketika ia sedang stres atau sakit, seperti saat ia terkena radang beberapa waktu lalu, mode diamnya bisa menjadi sangat mengintimidasi. Menyelesaikan masalah rumah tangga dini ini jelas membutuhkan lebih dari sekadar cinta; butuh taktik, negosiasi, dan kesabaran tingkat dewa.
Menghadapi segala kerumitan tersebut, aku menyadari bahwa posisiku di sini adalah sebagai jangkar kewarasan. Jika aku menggunakan ego maskulin pada umumnya yang selalu menuntut divalidasi, hubungan ini pasti sudah hancur sejak bulan pertama. Namun, sebagai INFJ, aku memilih untuk tidak memaksanya berubah menjadi perempuan yang clingy atau terlalu ekspresif. Aku merangkul sikap defensifnya dan mencoba memahami bahwa di balik tembok es serta balasan pesan yang kaku, terdapat komitmen dan kesetiaan yang luar biasa solid. Pemahaman sedalam ini memungkinkanku untuk menata ekspektasi, mengontrol emosi, dan tetap konsisten memberikan perhatian tanpa perlu mengemis timbal balik yang instan.
Pada akhirnya, semua ujian kesabaran dan kelelahan mental ini adalah harga yang sangat sepadan untuk sebuah kepercayaan eksklusif. Menembus benteng pertahanan seorang ISTJ memang susahnya setengah mati, tetapi begitu kamu mendapatkan green flag, seperti ketika ibunya diam-diam memberikan lampu hijau dan berinisiatif mengajakku buka puasa bersama, kamu tahu bahwa kamu telah berhasil masuk ke zona VVIP dalam hidupnya. Aku mungkin tidak mendapatkan lovestagram atau dihujani kata-kata manis setiap hari, tetapi aku berhasil menjinakkan sosok yang loyalitasnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Dan jujur saja, menguasai seni mencintai orang yang paling sulit dicintai adalah ultimate flex dari pembuktian kedewasaan yang sesungguhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar