Kamis, 17 September 2026

Manchester United, Dua Kekalahan yang Berbeda tetapi Berakar dari Masalah yang Sama: Belajar dari City dan Brighton Sebelum ke Craven Cottage

 

Ada sesuatu yang terasa cukup mengganggu dari dua pertandingan terakhir Manchester United ini. Kekalahan 0–1 dari Manchester City pada Derby Manchester dan kekalahan 2–3 dari Brighton di Carabao Cup memang terjadi dalam konteks yang berbeda, tetapi kalau dilihat lebih dalam, ada satu benang merah yang sama: United belum cukup matang dalam mengelola perubahan game state. Melawan City, United bermain hampir sepanjang pertandingan dengan keunggulan jumlah pemain setelah Phil Foden mendapat kartu merah pada menit ke-23, tetapi tetap kesulitan mengubah superioritas numerik itu menjadi tekanan yang benar-benar konsisten. City malah mencetak gol lewat Erling Haaland pada menit ke-60 dan menang 1–0. Belakangan, Pro Ref mengakui bahwa keputusan VAR dalam proses gol tersebut adalah kesalahan karena pengaruh Enzo Fernández yang berada dalam posisi offside tidak diperhitungkan. Jadi memang ada elemen kontroversial yang merugikan United, tetapi menurutku pertandingan itu tetap menyisakan pertanyaan yang lebih besar: mengapa melawan sepuluh pemain United tidak cukup agresif dan kreatif?

Kalau Derby adalah cerita tentang gagal memanfaatkan game state yang sebenarnya menguntungkan, Brighton adalah kebalikannya: United sudah mendapatkan game state terbaik yang mungkin diminta seorang manajer, tetapi gagal mempertahankannya. Shea Lacey dan Mason Mount membuat United unggul 2–0 hanya dalam sepuluh menit, dan pada titik tersebut pertandingan seharusnya berada dalam kendali penuh. Namun setelah itu United seperti kehilangan intensitas dan konsentrasi. Brighton menemukan jalan kembali melalui Charalampos Kostoulas menjelang babak pertama berakhir, lalu Pascal Groß dan Maxim De Cuyper membalikkan skor menjadi 3–2. Ini bahkan menjadi pertama kalinya dalam 50 tahun United kalah di Old Trafford setelah unggul dua gol, sebuah catatan yang membuat keruntuhan tersebut terasa jauh lebih serius daripada sekadar kekalahan di putaran ketiga Carabao Cup. Yang membuatnya makin menyakitkan, United juga tidak berhasil menciptakan cukup peluang setelah kehilangan momentum dan baru kembali mencatat tembakan tepat sasaran setelah menit ke-76.

Tetapi di sinilah aku agak berbeda dengan narasi yang langsung menempatkan semua kesalahan di pundak Michael Carrick. Menurutku Carrick tetap memiliki tanggung jawab, terutama bagaimana dia mengatur pertandingan setelah United unggul atau ketika lawan berubah pendekatan. Namun aku juga merasa kita tidak boleh mengabaikan persoalan struktural yang sudah terlihat bahkan sebelum musim berjalan. United memang menghabiskan banyak uang untuk memperkuat lini tengah dengan Carlos Baleba, Andrey Santos, dan Youri Tielemans, tetapi tidak menyelesaikan kebutuhan di posisi left-back. Bahkan sebelum deadline transfer, sudah ada kekhawatiran bahwa Luke Shaw akan sulit memainkan sebagian besar pertandingan sepanjang musim dan Patrick Dorgu, Diogo Dalot, atau Noussair Mazraoui bukan solusi yang benar-benar identik dengan seorang left-back spesialis. Pada akhirnya kekhawatiran itu menjadi nyata: Shaw mengalami masalah kebugaran dan United harus menggeser pemain lain untuk menutup posisi tersebut. Jadi ketika kita melihat United kehilangan struktur di beberapa pertandingan, aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Carrick karena dia memang bekerja dengan sumber daya yang tidak ideal.

Masalah lini depan juga perlu dibicarakan dengan sedikit lebih adil. United sebenarnya sudah membeli Benjamin Šeško, jadi secara literal bukan berarti klub tidak membeli striker sama sekali. Tetapi menurutku inti kritiknya adalah kedalaman dan variasi solusi di posisi nomor 9, apalagi Rasmus Højlund pergi dan Joshua Zirkzee masih punya profil yang sangat berbeda dari striker orthodox. Šeško memiliki kemampuan menyerang ruang dan memberikan ancaman vertikal, sedangkan Zirkzee lebih nyaman menghubungkan permainan dan turun mencari bola. Artinya ketika satu skenario pertandingan tidak berjalan, Carrick tidak punya terlalu banyak alternatif dengan karakteristik yang sama kuatnya untuk langsung mengubah permainan. Ini terasa ketika United tertinggal: ada Bruno, Cunha, Mbeumo, Rashford, Šeško, dan Zirkzee, tetapi perannya tidak selalu bisa saling menggantikan. Jadi bagiku kritik terhadap manajemen bukan “kenapa tidak membeli striker?”, melainkan “kenapa kedalaman dan profil striker tidak dibuat lebih lengkap sebelum musim yang begitu padat?” United sendiri memasuki musim dengan Champions League dan jadwal yang lebih padat, sementara analisis pramusim sudah menyoroti kebutuhan memperkuat posisi left-back dan menjaga kedalaman skuad.

Karena itu, kalau aku menjadi Carrick dan sekarang harus membawa tim ke Craven Cottage untuk menghadapi Fulham pada Minggu, 20 September, aku justru tidak akan mencoba melakukan revolusi taktikal. Aku akan membuat pertandingan sesederhana mungkin. Setelah dua kekalahan beruntun itu, yang dibutuhkan United bukan sebuah sistem baru yang rumit, tetapi sebuah tim yang kembali memahami kapan harus mempercepat pertandingan dan kapan harus membuat pertandingan melambat. Prediksiku, kalau Luke Shaw cukup fit, aku akan memilih Lammens; Dalot, Maguire, Lisandro Martínez, Shaw; Mainoo, Tielemans; Mbeumo, Bruno Fernandes, Cunha; dan Šeško. Kalau Shaw belum siap, Dorgu menjadi solusi alami di kiri. Prediksi ini juga sejalan dengan laporan terkini yang memperkirakan Mainoo kembali ke starting XI, Bruno kembali ke posisi nomor 10, dan Šeško berpeluang mendapat start Premier League pertamanya.

Yang paling penting, aku akan kembali kepada konsep yang menurutku paling menarik dari Carrick: control the game state. Melawan Fulham, aku tidak peduli apakah United menguasai bola 60 atau 65 persen. Aku ingin United memahami pertandingan. Pada 15–20 menit pertama, jangan terburu-buru mengejar gol. Biarkan Mainoo dan Tielemans membaca pressing, biarkan Bruno mencari ruang di belakang gelandang Fulham, dan biarkan Mbeumo serta Cunha menyerang ketika ruang benar-benar terbuka. Dalam possession aku masih ingin melihat bentuk 3–2–5, dengan salah satu full-back masuk lebih agresif dan pemain lainnya menjaga rest defence. Mainoo harus menjadi semacam thermostat pertandingan: ketika tempo terlalu cepat, dia menurunkannya; ketika Fulham mulai terbuka, dia membawa bola ke depan. Ini juga sesuai dengan perkembangan Mainoo di bawah Carrick, karena dia semakin digunakan sebagai pemain yang membantu United mengontrol tempo sekaligus membawa bola melewati tekanan.

Dan aku akan membuat satu aturan yang sangat sederhana kepada pemain: kalau sudah unggul, jangan ulangi Brighton. Misalnya United unggul 1–0 pada menit ke-55, aku tidak ingin mereka berpikir bahwa pertandingan harus segera diselesaikan dengan gol kedua. Justru sebaliknya, aku ingin United membuat Fulham frustrasi. Mainoo dan Tielemans mengedarkan bola, Bruno memilih kapan harus vertikal, sementara Šeško tetap berada cukup tinggi untuk menjadi outlet ketika United melakukan counter. Dorgu atau Shaw tidak boleh maju bersamaan dengan full-back di sisi lain sehingga rest defence menjadi kosong. Brighton menunjukkan betapa mahalnya satu kesalahan struktural ketika momentum berpindah. Jadi ketika United memimpin, game management harus menjadi bagian dari taktik, bukan sekadar sesuatu yang dilakukan lima menit terakhir. Ini mungkin terdengar membosankan, tetapi dalam kondisi United sekarang, kemenangan 1–0 yang dingin jauh lebih berharga daripada pertandingan liar 4–3 yang membuat semua orang stres sampai menit 95.

Ada alasan lain kenapa aku menyukai pendekatan tersebut melawan Fulham. Fulham sendiri datang setelah menahan Liverpool 0–0 di Anfield, pertandingan di mana mereka berhasil mempertahankan struktur dan membuat Liverpool kesulitan menciptakan energi serta ketajaman yang konsisten. Mereka memang belum meraih kemenangan liga dan United juga belum memulai musim seperti yang diharapkan, sehingga pertandingan di Craven Cottage terasa seperti duel dua tim yang sama-sama membutuhkan stabilitas. United juga memiliki catatan bahwa mereka belum kalah di kandang Fulham sejak 2009, tetapi aku tidak akan terlalu mempercayai statistik itu. Justru aku akan menggunakan pertandingan Liverpool sebagai peringatan bahwa Fulham bisa membuat pertandingan menjadi tidak nyaman apabila United kehilangan kesabaran dan terlalu memaksakan serangan.

Pada akhirnya, aku melihat dua kekalahan terakhir ini bukan sebagai bukti bahwa seluruh ide Carrick telah gagal. Buatku justru sekarang adalah momen ketika Carrick harus menunjukkan apakah filosofi control, adaptability, dan game-state management miliknya benar-benar bisa bertahan ketika kondisi skuad tidak sempurna. Kekalahan dari City menunjukkan United belum cukup klinis dalam memanfaatkan keadaan luar biasa seperti menghadapi sepuluh pemain, sedangkan kekalahan dari Brighton menunjukkan United belum cukup dewasa mempertahankan keunggulan dua gol. Ditambah persoalan depth di left-back dan kedalaman striker yang belum ideal, margin kesalahan United memang sangat kecil. Karena itu, kalau aku menjadi Carrick, target di Craven Cottage bukan membuat pernyataan besar. Targetku hanya satu: mainkan pertandingan dengan kepala dingin, unggul kalau bisa, lalu jangan memberikan pertandingan itu kembali kepada Fulham. Setelah dua kekalahan yang menyakitkan, mungkin kemenangan yang paling dibutuhkan United bukan kemenangan spektakuler, tetapi kemenangan yang membuat kita pulang sambil berkata, “akhirnya mereka belajar bagaimana mengendalikan pertandingan.”

Manchester United, Dua Kekalahan yang Berbeda tetapi Berakar dari Masalah yang Sama: Belajar dari City dan Brighton Sebelum ke Craven Cottage

  Ada sesuatu yang terasa cukup mengganggu dari dua pertandingan terakhir Manchester United ini. Kekalahan 0–1 dari Manchester City pada Der...